Pengembangan Pesawat TurboProp R80 Rancangan BJ Habibie - Salah Loebang

Salah Loebang

Tips dan trik serta manfaat

Home Top Ad

Post Top Ad

Selasa, 17 September 2019

Pengembangan Pesawat TurboProp R80 Rancangan BJ Habibie

Presiden Indonesia ke-3, BJ Habibie pernah bermimpi memiliki pesawat nasional yang bisa membawa nama Indonesia lebih harum. Tak disangka, mimpi ini terwujud dengan diciptakannya pesawat R80 yang rencananya akan dirakit tahun ini dan mulai di jual tahun 2025 mendatang.

Meski belum dipastikan kapan tepatnya akan dirakit, pesawat R80 ini ternyata laris manis. Buktinya, sudah ada pesanan sebanyak 155 unit, dengan rincian Nam Air memesan 100 unit, Kalstar 25 unit, Trigana Air 20 unit dan Aviastar 10 unit.

Pesawat ini diklaim BJ Habibie menjadi kebanggaan terbarunya. Bahkan BJ Habibie pernah menyatakan tidak ingin meninggal sebelum hasil rancanagannya ini mengudara.

Mengenal Lebih Dekat Pesawat R80 BJ Habibie

Dirancang dengan Teknologi Canggih
Pesawat R80 dilengkapi dengan sistem kendali fly by wire yang menggunakan sinyal elektronik dalam memberikan perintah. Lalu, pesawat ini juga bisa meminimalisir suara bising yang dihasilkan baling-baling pesawat. Sistem penyesuaian udara juga ditanamkan di sini sehingga tekanan udara di pesawat stabil tidak terpengaruh ketinggian pesawat.

Irit Bahan Bakar
Komisaris PT Regio Aviasi Industri (RAI), Ilham Habibie mengatakan sebagai pesawat bermesin baling-baling atau mesin turboprop, konsumsi bahan bakar pesawat R80 jauh lebih irit 20 persen ketimbang pesawat bermesin jet.

sumber : www.liputan6.com/tag/pesawat-r80
Hal ini tentu menjadi pertimbangan maskapai untuk membeli pesawat R80, karena efisiensi bahan bakar dapat membuat perusahaan semakin untung.

"Menurut saya minimal 20 persen irit, itu cukup berarti. Karena laba perusahaan sangat sedikit, kompetisi ketat, sehingga mereka harus bisa berhemat," tuturnya.

Bisa Terbang di Landas Pacu Pendek
Berikutnya adalah pesawat R80 mampu terbang di landas pacu yang pendek, meski dapat mengangkut banyak penumpang, pesawat R80 dapat mengakses bandara kecil yang biasanya terdapat di wilayah kepulauan.
sumber : www.liputan6.com/tag/pesawat-r80
"Selain itu terbang landas di landasan pendek, ada keunggulan di kota kecil menengah. Ini untuk rute yang tidak terlalu jauh," ujar Ilham Habibie.

Bisa Angkut Banyak Penumpang
Kemudian, pesawat ini didesain untuk penerbangan sipil yang akan memiliki teknologi dan kebutuhan pasar 5-10 tahun ke depan.

sumber : www.liputan6.com/tag/pesawat-r80

Keunggulan Pesawat R80 Dibanding ATR dan Bombardier

Pesawat R80 garapan PT Regio Aviasi Industri (RAI) memiliki keunggulan yang tidak dimiliki pabrikan pesawat lain. Moda transportasi udara ini, diciptakan untuk menjangkau wilayah kepulauan.

Komisaris RAI, Ilham Habibie mengatakan sebagai pesawat bermesin baling-baling, R80 memiliki saingan, di antaranya ATR dan Bombardier Dash-8. Namun dia optimistis pesawat R80 bisa memenangkan persaingan dengan pesawat asal Prancis dan Kanada tersebut.

"Ini di dunia belum ada, karena 80-100 (penumpang) itu strategi kita. Membuat satu produk yang sebetulnya belum ada," kata Ilham saat ditemui di Perpustakaan Habibie Ainun, Kawasan Patra Kuningan, Jakarta, Kamis (22/2/2018).

Ilham Habibie mengungkapkan, ‎dengan digerakkan mesin turboprop, konsumsi bahan bakar pesawat R80 jauh lebih irit 20 persen ketimbang pesawat bermesin jet. Hal ini tentunya jadi pertimbangan maskapai untuk membeli pesawat R80, karena efisiensi bahan bakar dapat membuat perusahan semakin untung.

"Kalau menurut saya minimal 20 persen irit, itu cukup berarti. Karena laba perusahaan sangat sedikit, kompetisi ketat, sehingga mereka harus bisa berhemat‎," tuturnya.

Untuk kenyamanan penumpang, pesawat R80 dilengkapi dengan sistem penyesuaian udara, sehingga tekanan udara di kabin pesawat tetap stabil tidak terpengaruh ketinggian pesawat. Hal ini tidak seperti pesawat jarak dekat berbadan kecil, yang tidak memiliki sistem tersebut.

keunggulan berikutnya adalah pesawat R80 mampu terbang landa‎s dengan landas pacu yang pendek, meski dapat mengangkut banyak penumpang, pesawat R80 dapat mengakses bandara kecil yang biasanya terdapat di wilayah kepulauan.

"Selain itu terbang landas di landasan pendek, ada keunggulan di kota kecil menengah. Ini untuk rute yang tidak terlalu jauh," ujarnya.

RAI sudah menyelesaikan fase pertama pengembangan dan pembangunan pesawat R80, meliputi desain dasar dan kelayakan pada 2016. Kemudian untuk fase dua meliputi pembangunan keseluruhan ditargetkan selesai 2025, setelah itu fase tiga produksi dan penyerahan pesawat ke pemesan.

Direktur Utama RAI, Agung Nugroho mengungkapkan, ‎saat ini RAI sudah berkontrak dengan empat maskapai penerbangan dalam negeri, yaitu Nam Air, Aviastar Airlines, Kalstar Aviation, dan Trigana Air dengan pesanan sebanyak 155 unit pesawat.

"Sudah ada empat maskapai, pesan 155 pesawat R80," tandasnya.

2 Perusahaan Italia Ikut Garap Pembuatan Pesawat R80
Dua perusahaan asal Italia, LEONARDO Aerostructures Division dan LAER mengambil bagian dalam program pengembangan dan pembuatan komponen Arostruktur utama Pesawat R80, yang diinisiasi PT Regio Avisasi Industri (RAI).

Komisaris RAI Ilham Habibie mengatakan, kedua perusahaan tersebut berkomitmen untuk berpartisipasi dalam program pengembangan dan pembuatan komponen Aerostruktur utama Pesawat R80, meliputi badan pesawat hingga buntut, di luar bagian kopit dan sayap.

"Jadi kita telah menyepakati kerja sama, mengkaji bagian badan sampai buntutnya," kata Ilham, saat ditemui, di Perpustakaan Habibie Ainun, Kawasan Patra Kuningan, Jakarta, Kamis (22/2/2018).

Ilham menjelaskan, LEONARDO Aerostructures Division merupakan bagian dari perusahaan besar Italia di bidang pengembangan dan pembuatan komponen aerostruktur utama untuk pesawat sipil, meliputi desain dan badan pesawat.

Sedangkan LAER merupakan perusahaan Italia yang spe‎siais daam bidang perancangan dan pembuatan aerostruktur. LAER banyak berpartisipasi dalam program pembuatan pesawat di dunia.

Ilham menuturkan, kehadiran kedua ‎perusahaan tersebut membantu mengembangkan dan membuat R80. Lantaran, saat ini masih terdapat kendala dalam pengembangan dan pembuatan R80, kendala tersebut di antaranya adalah sumber pendanaan. Namun ketika ditanyakan, investasi yang akan ditanamkan kedua perusahan tersebut, dia belum menyebutkan.

Ilham mengungkapkan, pendanaan ‎menjadi masalah karena tidak ada bank yang mau memodali proyek pengembangan. Lantaran belum ada kepastian keuntungan yang didapat dari hasil pengembangan.

"Kalau pengembangan tidak bisa dibiayai bank di mana pun di dunia ini karena belum menjual, nanti ada namanya modal kerja karena ada kontrak bukti pengembalian," papar Ilham.

RAI sudah menyelesaikan fase pertama pengembangan dan pembangunan pesawat R80, meliputi desain dasar dan kelayakan pada 2016, kemudian untuk fase dua meliputi pembangunan keseluruhan ditargetkan selesai 2025. Kemudian fase tiga produksi dan penyerahan pesawat ke pemesan.

Kapan Mulai Produksi?
Sebelumnya, Pemerintah menyatakan produksi secara komersial pesawat R80 belum akan dimulai di tahun depan. Pesawat yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) ini dikembangkan oleh PT Regio Aviasi Industri (RAI) besutan Ilham Habibie.

‎Deputi VI Bidang Percepatan Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Wahyu Utomo mengatakan, proses pengembangan pesawat yang diklaim akan lebih canggih dari ATR ini masih membutuhkan banyak persiapan.

"Kalau itu saya pikir memang enggak mungkin ya dalam 2018 dia sudah membangun. Karena proses membangunnya harus ada sertifikat yang dicari, yang didapatkan," ujar dia dalam Seminar Percepatan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah dalam Kajian Kebijakan 2017 di Jakarta, Kamis 14 Desember 2017.Dia menuturkan, saat ini PT RAI tengah mengumpulkan dana untuk membangun purwa rupa (prototype) dari pesawat tersebut. Setelah dibuat prototipe, pesawat tersebut harus melakukan uji terbang dan mendapatkan sertifikat dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

"Tapi saya sudah dengat saat ini mereka sudah mencari dana untuk progress bikin prototype. Kalau sudah ada itu baru bisa diuji terbang dan dapat sertifikat. Baru produksi. Jadi kalau produksi 2018 memang tidak mungkin. Tapi dia sudah proses saat ini untuk cari dana bangun prototype dan mulai proses untuk uji laik terbang," jelas dia.

Wahyu menyatakan, meski masuk dalam PSN, namun pemerintah tidak akan memberikan penjaminan untuk pengembangan proyek pesawat R80. Namun yang akan diberikan pemerintah yaitu kemudahan proses perizinan dari proyek tersebut.‎

"Dari awal disebutkan pemerintah tidak memberikan dukungan atau jaminan. Tapi yang yang paling mungkin kita berikan adalah dalam hal perizinan kita akan bantu. Tapi kalau dana tidak ada, misal PMN (Penyertaan Modal Negara), itu tidak ada," ujar dia.

Warganet Ramai Ingin Wujudkan Mimpi BJ Habibie Bikin Pesawat R80

Selain ucapan duka cita, warganet haru biru dan mencuitkan kisah cinta BJ Habibie dengan istrinya, Ainun Habibie yang berpulang lebih dahulu pada 22 Mei 2010.

Segala karya dan mimpi BJ Habibie pun dituliskan oleh warganet, termasuk mimpinya membangun pesawat R80.

Pesawat R80 merupakan pesawat yang murni buatan Indonesia dengan arsitek BJ Habibie. Pembuatannya disponsori PT Regio Aviasi Industri (RAI) dan dikerjakan oleh PT Dirgantara Indonesia.

Rego Aviasi Industri (RAI) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perancangan, pengembangan, dan manufaktur pesawat terbang yang didirikan oleh Presiden ke-3 RI BJ Habibie dan putra sulungnya, Ilham Akbar Habibie.

RAI khusus mengembangkan pesawat R80 untuk menjawab kebutuhan angkutan udara regional di Indonesia dan pasar internasional.

Ajak Masyarakat Galang Dana
Laman Kita Bisa mengenai Dukungan Indonesia untuk R80 menyebut, total biaya pembuatan prototipe pesawat R80 diperkirakan mencapai lebih dari Rp 200 miliar. Sedangkan keseluruhan biaya pengembangan usaha mencapai USD 1,6 miliar atau sekitar Rp 20 triliun.

Karena merupakan buatan bangsa Indonesia, BJ Habibie mengajak serta seluruh masyarakat untuk ikut serta mendukung pengembangan pesawat R80 dengan menyumbangkan donasi di laman Kitabisa.com pada 2017 lalu.

Saat ini, nilai dukungan dari masyarakat Indonesia untuk pengembangan R80 mencapai Rp 9,2 miliar.

Setelah BJ Habibie meninggal dunia, warganet kian semangat mewujudkan impian BJ Habibie agar Indonesia memiliki pesawat angkut sendiri yakni R80.


sumber : https://www.liputan6.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad